oleh Calista Eightten Deyas (EMA ’17)
Wakil Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UI 2019

Tahun 1883 merupakan tahun bersejarah bagi kehidupan manusia. Bagaimana tidak? Listrik berhasil dikembangkan oleh Michael Faraday dan hal tersebut hingga saat ini telah berperan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa listrik, hal-hal penting seperti proses produksi, pengaksesan informasi, komunikasi dan lain sebagainya tidak akan dapat dilakukan. Rasanya benar jika mengatakan bahwa manusia tidak akan dapat dipisahkan dengan keberadaan listrik.

Di Indonesia, kebutuhan masyarakat akan listrik sebagian besar ditopang oleh batubara. Setidaknya 73% dari listrik Indonesia di topang oleh batubara. Sebelumnya, batubara merupakan bahan bakar fosil yang berasal dari endapan organik, seperti tumbuh – tumbuhan, dan terbentuk setelah melewati proses jutaan tahun. Batubara kini telah menjadi sumber utama penyumbang kebutuhan listrik di Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa batubara merupakan sumber energi termurah dibandingkan sumber energi lainnya. Itu sebabnya, batubara akan menopang kebutuhan listrik Indonesia hingga tahun 2050, menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar. Hal ini terbukti melihat tercatatnya pembangkit listrik yang berbasis batubara masih mendominasi kebutuhan listrik di Indonesia sebesar 24.883 MW atau 48% dari total kapasitas pembangkit di dalam negeri 52.231 MW pada awal 2018. Mengingat Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alamnya, kebutuhan akan batubara tentu mudah dipenuhi dengan mengeruk pulau seperti pulau Sumatera dan Kalimantan.

Namun, dibalik berlimpahnya komoditas batubara yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan listriknya, Indonesia harus menghadapi kerugian yang cukup dalam. Nyatanya, pengunaan batubara telah terbukti merusak lingkungan dan masalah kesehatan. Dari segi lingkungan, penggunaan batubara menyebabkan berbagai pencemaran yang kemudian merusak lingkungan. Sebagai contoh, limbah batubara yang dibuang ke tanah dan ke air akhirnya merusak tanah dan air yang digunakan untuk pertanian dan menyebabkan kerusakan lahan pertanian yang menyebabkan berkurangnya produksi dari pertanian berdasarkan data yang diperoleh oleh Greenpeace. Kalimantan adalah salah satu pulau yang merasakan dampaknya. Jumlah rumah tangga pertanian di kota Samarinda menurun sebesar 50% selama 10 tahun terakhir, menyebabkan penurunan produksi beras di kota Samarinda.

Kerusakan lingkungan juga nyatanya menyebabkan kematian. Bekas kerukan barubara juga nyatanya membunuh masyarakat yang ada di sekitar pertambangan tersebut. Setidaknya tercatat 32 anak – anak yang ditemukan tenggelam di lubang bekas tambang batubara di Kalimantan Timur pada bulan November 2018. Dan mirisnya, masalah ini telah terjadi sejak tahun 2011, namun pemerintah saja belum turun tangan akan permasalahan tersebut.

Seakan hal tersebut masih belum cukup, penggunaan batubara sebagai pembangkit listrik nyatanya menimbulkan polusi udara yang didalamnya terkandung senyawa merkuri, timbal, arsenik dan kadmium yang beracun bagi tubuh. Hal tersebut menyebabkan peningkatan risiko kanker paru-paru, stroke, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. Angka estimasi kematian dini akibat PLTU batubara yang saat ini sudah beroperasi, mencapai sekitar 6.500 jiwa per tahun di Indonesia.

Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi penulis. Apakah benar energi batubara merupakan satu-satunya energi yang hanya dapat digunakan Indonesia? Melihat dampak yang yang ditimbulkan, bukankah sudah seharusnya Indonesia mengganti sumber penopang listriknya?

Penulis meyakini satu-satunya solusi terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengganti batubara dengan energi terbaharukan.

Mungkin terdengar tidak mudah. Namun, langkah tersebut haruslah dilakukan mengingat ketersediaan material batubara adalah material yang dapat habis jika terus menerus digunakan. Pembentukan batubara membutuhkan waktu berjuta – juta tahun, sedangkan pengunaannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan masa terbentuknya batubara. Kementrian ESDM memperkirakan jika tidak ditemukan energi alternatif yang baru, cadangan batubara yang ada di Indonesia hanya dapat bertahan selama 56 tahun. Waktu tersebut tentu dapat berkurang jika eksploitasi batubara dilakukan secara masif.

Dalam melakukan pergeseran pengunaan dari batubara menuju ke energi terbaharukan Indonesia dapat mencontoh negara seperti Kanada dan Perancis yang berkomitmen untuk menghentikan penggunaan batubara sebagai penopang tenaga listrik. Di Kanada, pembangkit tenaga listrik besar ditopang oleh tenaga air. Kanada berkomitmen untuk menghentikan sepenuhnya energi dari batubara pada tahun 2030. Begitu juga dengan Perancis. Perancis berinvestasi besar – besaran pada energi nuklir dan sekitar 75% listrik yang ada di negara tersebut ditopang oleh energi nuklir. Perancis optimis dapat bersih dari batubara pada tahun 2023 atau sekitar empat tahun dari sekarang.

Penulis meyakini bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan oleh Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai kekayaan alam. Indonesia dapat memanfaatkan tenaga air, angin dan sinar matahari yang tersedia di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang berada di garis khatulistiwa, sehingga pemanfaatan energi – energi tersebut, khususnya sinar matahari, sangat mungkin untuk dilakukan. Terlebih, ditemukan fakta bahwa pengembangan tenaga surya nyatanya masih jauh lebih murah dibandingkan dengan penggunaan batubara yang diklaim murah oleh pemerintah.

Jika dibandingkan, energi listrik yang dihasilkan oleh batubara menimbulkan biaya sebesar 6 juta per tahunnya untuk satu rumah. Sedangkan, dengan menggunakan tenaga surya, pemerintah perlu berinvestasi sekitar Rp79,8 juta. Mungkin, ketika dilakukan perbandingan, rasanya pengembangan energi surya lebih mahal. Namun, jika dilihat dampak jangka panjangnya, pemerintah hanya perlu membayar sekali yaitu sebanyak 79,8 juta untuk membangun panel surya. Perawatannya pun juga murah, hanya perlu membersihkan panel surya dengan menggunakan air dan sabun. Jika dibersihkan dengan benar, sebuah panel surya dapat bertahan selama 20 sampai 30 tahun. Sedangkan, penggunaan batubara akan tetap menghabiskan biaya sebesar 6 juta pertahun untuk satu rumah, belum lagi jika harga batubara nantinya mengalami kenaikan.

Akhir kata, persoalan ini mungkin masih merupakan persoalan dilematis bagi pemerintah. Mengingat mengganti sistem yang selama ini telah berlangsung di Indonesia tidaklah pernah mudah, namun hal tersebut memang haruslah dilakukan. Karena pada akhirnya, selain menemukan energi yang dapat menopang keberlangsungan listrik Indonesia, yang terpenting adalah menjaga bumi tempat kita tinggali agar bumi kita dapat menjadi tempat tinggal bagi anak dan cucu kita.

REFERENSI
Erdianto, Kristian. (2016). Studi: Kematian Akibat PLTU Batubara Mencapai 6.500 Jiwa per Tahun. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2016/02/08/10064911/Studi.Kematian.Akibat.PLTU.Batubara. Mencapai.6.500.Jiwa.per.Tahun

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2018). Cadangan Batubara Indonesia Sebesar 26 Miliar Ton. Diakses dari https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/cadanganbatubara-indonesia-sebesar-26-miliar-ton

Nugraha, Indra. (2014). Batubara, Rusak Lingkungan, Sumber Beragam Penyakit sampai Hancurkan Pangan dan Budaya. Diakses dari https://www.mongabay.co.id/2014/02/24/batubararusak-lingkungan-sumber-beragam-penyakit-sampai-hancurkan-pangan-dan-budaya/

Satrianegara, Rivi. (2018). PLN: Batu Bara Bahan Bakar Termurah untuk Pembangkit. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20180205171757-4-3572/pln-batu-bara-bahan-bakartermurah-untuk-pembangkit

Primadhyta, Safyra. (2018). Batu Bara Tetap Jadi Sumber Energi Utama Hingga 2050. Diakses dari https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180509092041-92-296811/batu-bara-tetap-jadisumber-energi-utama-hingga-2050

Putra, M. Andika. (2016). Lubang Tambang di Kaltim Akibatkan 27 Korban Tewas. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20161121200937-20-174240/lubang-tambang-dikaltim-akibatkan-27-korban-tewas

Zuhra, Wan Ulfa Nur. (2016). Mengalkulasi Investasi Energi Matahari. Diakses dari https://tirto.id/mengalkulasi-investasi-energi-matahari-876

Zuhra, Wan Ulfa Nur. (2016). Tenaga Surya Versus Batu Bara, Mana Lebih Murah?. Diakses dari https://tirto.id/tenaga-surya-versus-batu-bara-mana-lebih-murah-bsRE

Zuhra, Wan Ulfa Nur. (2017). Bagaimana Kanada, Inggris, dan Perancis Mendepak Batu Bara. Diakses dari https://tirto.id/bagaimana-kanada-inggris-dan-perancis-mendepak-batu-bara-csb2

Zuhri, Sepudin. (2018). Inilah Kondisi Kelistrikan di Indonesia Saat Ini. Diakses dari https://ekonomi.bisnis.com/read/20180130/44/731989/inilah-kondisi-kelistrikan-di-indonesiasaat-ini