Oleh : Andreas Ivan Rasendriya Pandega (EIE 18)
Staff Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UI 2019

“Yang luar biasa lagi kita sudah memiliki investasi infrastruktur yang hebat. Tidak saja tol darat, tol laut dan tol udara, tetapi saya sebutnya juga tol langit. Ya, itu namanya yang kita gunakan untuk digital,” ujar Ma’ruf Amin.

Internet berperan vital dalam menghubungkan dan menyajikan informasi kepada manusia secara global. Tidak hanya itu, internet juga memiliki peranan penting dalam membangun perekonomian dan kesejahteraan sebuah bangsa. Manfaat dari internet terimplementasi dalam berbagai aspek kehidupan bangsa. Peluang inilah yang mendorong pemerintah untuk membangun infrastruktur telekomunikasi. Agar berbagai manfaat tersebut dapat dirasakan oleh semua rakyat Indonesia.

Dalam bidang ekonomi, internet membantu munculnya startup seperti go-jek yang membuka lapangan pekerjaan baru, bukalapak, tokopedia, olx dan menciptakan peluang usaha bagi masyarakat. Pada bidang pemerintahan, internet memiliki manfaat yang tidak kalah penting seperti memudahkan penyampaian aspirasi masyarakat, memudahkan sistem administrasi, akses terhadap layanan publik, memudahkan penyampaian aspirasi masyarakat dan membantu penyuluhan mengenai program kerja pemerintah kepada masyarakat. Kemudian dalam bidang pendidikan, internet memberikan manfaat dalam akses untuk memperoleh ilmu dengan mudah, praktis dan murah melalui video-video yang ada di YouTube atau websitewebsite edukasi seperti brainly.

Pada era digital masa kini, akses internet adalah hal fundamental untuk dimiliki setiap warga negara. Maka daripada itu, pemerintah terus membangun tol langit terutama di daerah 3T atau daerah tertinggal, terdepan dan terluar Negara Indonesia. Kegiatan pembangunan tersebut sejalan dengan program nawacita milik Jokowi. Nawacita hendak membangun Indonesia dari daerah pinggiran, secara masifnya membangun infrastruktur yang“terlihat” dan “tidak terlihat” di daerah-daerah dan desa. Pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan sosial adalah fokus utama yang sedang dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi. Menurut Jokowi, Indonesia tidak akan memiliki daya saing, jika tidak didukung oleh pembangunan infrastruktur. Lalu, sejauh mana capaian pembangunan infrastruktur Indonesia, khususnya infrastruktur telekomunikasi untuk menunjang konektivitas internet? Apakah pembangunan tol langit tersebut benar-benar meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia?

Pemerintah terus mengejar ketertinggalan Indonesia di dunia internet. Pemerintah mengupayakan akses informasi dan kemudahan komunikasi di kota-kota besar agar dapat dinikmati sampai ke pelosok negeri. Upaya konkret yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membentuk Badan Layanan Umum (BLU) bernama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Palapa ring adalah salah satu upaya BAKTI untuk menghadirkan akses internet berkecepatan tinggi di seluruh pelosok negeri dengan menarik kabel serat optik yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Upaya konkret yang dilakukan BAKTI lainnya adalah pembangunan satelit senilai 8 triliyun rupiah dengan skema kemitraan pemerintah dan badan usaha (KPBU). Pembangunan satelit tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pemerintah dalam menyewa satelit milik swasta seperti satelit nusantara milik PSN yang baru saja diluncurkan pada tanggal 22 Februari 2019.

Meski begitu, pemerintah berhadapan dengan beragam hambatan dan kesulitan dalam membangun infrastruktur tol langit. Ada yang disebabkan bentuk negara kepulauan yang mengakibatkan proses pembangunan palapa ring memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Hal itu disebabkan kabel fiber yang ditarik harus melewati perairan sehingga biaya untuk menggali dan menanam kabel dibawah laut cukup tinggi. Pemerintah mengalami dilema antara meneruskan proyek palapa ring dengan biaya lebih rendah namun jangkauan dan kecepatan tidak se-efektif jika pemerintah fokus membangun satellite yang memerlukan dana lebih besar. Kondisi geogradis Indonesia juga membuat ongkos angkut kendaraan proyek mahal, bahkan belum tentu ada akses yang memadai untuk mengangkut peralatan untuk membangun. Hambatan berikutnya berada pada supply energi listrik yang apakah sudah cukup memadai untuk memasok tower dan bts-bts untuk internet. Nyatanya, banyak lokasi di Indonesia yang memang masih minim infrastruktur. Sehingga pembangunan tol langit internet butuh biaya yang lebih tinggi lagi.

Berdasarkan hal yang teah dipaparkan sebelumnya, apakah yang dilakukan pemerintah sudah tepat, dalam usaha memajukan perekonomian dan menyejahterakan masyarakat melalui program pembangunan infrastruktur telekomunikasi oleh BAKTI?

Penulis berpendapat bahwa pembangunan tol langit yang dilakukan oleh pemerintah sudah memajukan dan mensejahterakan bangsa. Hal ini diperkuat oleh Google dan Temasek yang memperkirakan nilai perdagangan e-commerce di Indonesia di tahun 2018 adalah USD 23,2 Miliar atau sekitar Rp336 Triliun gross merchandise value. Angka itu naik kurang lebih 114 persen dari tahun sebelumnya. Google dan Temasek juga memprediksi bahwa angka itu akan naik dua kali lipat dalam enam tahun ke depan sehingga mencapai USD53 Miliar atau sekitar Rp. 700 triliun pada 2025. Masih ada beberapa indikator keberhasilan pemerintah dalam membangun perekonomian bangsa dengan pesat melalui pembangunan tol langit. Yaitu pertumbuhan penetrasi internet sebanyak 130% dalam 5 tahun terakhir, dan menjadikan Indonesia sebagai pasar perdagangan digital paling cepat berkembang di Asia Tenggara, pertumbuhan penggunaan fintech sebesar 240% di tahun 2017 yang didukung data analisis Ernst & Young, serta pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air yang setiap tahun meningkat sebesar 40%.

Untuk lebih memaksimalkan usaha pemerintah dalam memajukan bangsa melalui pembangunan tol langit khususnya di daerah 3T, pemerintah seharusnya menggunakan filosofi “memberi pancing lebih baik daripada memberi ikannya.” lebih dalam. Pepatah ini menceritakan bagaimana seseorang menjadi berhasil ketika orang yang diberi pancing memiliki umpan dan mengerti cara menggunakannya. Sama halnya dengan usaha pemerintah yang berusaha menyamakan akses internet dari daerah 3T dengan yang ada di kota. Infrastruktur akan menjadi percuma jika masyarakatnya tidak memiliki skill dan pengetahuan tentang cara menggunakan internet, terlebih jika mereka tidak memiliki perangkat keras untuk mengakses internet seperti hp, laptop dan komputer. Karena menurut penelitian yang dilakukan oleh UNICEF dan KOMINFO, sebanyak 87% penduduk daerah perdesaan tidak memiliki gadget untuk mengakses internet.

Maka daripada itu, usaha yang dilakukan pemerintah untuk meratakan penyebaran konektivitas internet di daerah 3T semakin maksimal jika pemerintah juga memberikan penyuluhan mengenai penggunaan dan dampak positif internet. Pemerintah juga dapat memberikan bantuan berupa hardware agar masyarakat di pedalaman memiliki umpan atau alat untuk mengakses internet. Agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik di kemudian hari.

Referensi:
Pertiwi, Wahyunanda Kusuma. (2019). Separuh Penduduk Indonesia Sudah “Melek” Media Sosial”. Diakses dari https://tekno.kompas.com/read/2019/02/04/19140037/separuh-pendudukindonesia-sudah-melek-media-sosial. • Tim Redaksi. (2019). 2019, Internet Cepat di Semua Kabupaten. Diakses dari https://katadata.co.id/opini/2018/07/09/2019-internet-cepat-di-semua-kabupaten

Hidayat, Wicaksono Surya. (2011). Inilah Manfaat Internet bagi Ekonomi Indonesia. Diakses dari https://tekno.kompas.com/read/2011/12/13/16152949/Inilah.Manfa%20at.Internet .bagi.Ekonomi.Indonesia

Wedhaswary, Inggried Dwi. (2014). “Nawa Cita”, 9 Agenda Prioritas JokowiJK”. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/.Nawa.Cita.9.Agenda. Prioritas.Jokowi-JK

Carina, Jessi. (2019). Ma’ruf Amin: Jokowi Telah Bangun “Tol Langit”. Diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2019/02/24/12392581/maruf-amin-jokowitelah-bangun-tol-langit.

Kementrian Komunikasi dan Informatika. Membincang Peluang Investasi Sektor Ekonomi Digital Indonesia. Diakses dari https://kominfo.go.id/content/detail/16715/membincang-peluang-investasi-sektorekonomi-digital-indonesia/0/berita_satker

Siaran Pers. 2014. Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja Dalam Menggunakan Internet. Diakses dari https://kominfo.go.id/content/detail/3834/siaran-pers-no-17pihkominfo22014- tentang-riset-kominfo-dan-unicef-mengenai-perilaku-anak-dan-remaja-dalammenggunakan-internet/0/siaran_pers