oleh Ruth Agustini Sirait (EAK 18)
Staff Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM FEB UI 2019

Unicorn adalah gelar yang digunakan pada dunia industri perusahaan teknologi untuk mendefinisikan perusahaan privat yang memiliki nilai valuasi melebihi US$ 1 miliar atau sekitar Rp13,1 triliun lebih. Terdapat 8 unicorn di Asia Tenggara dan empat diantaranya berasal dari Indonesia. Adapun diantaranya Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Akan tetapi, apakah banyaknya jumlah unicorn di suatu negara merefleksikan kemajuan suatu negara? Atau hanya sebuah prestise belaka?

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gojek adalah sebuah perusahaan jasa asal Indonesia yang memanfaatkan teknologi dalam penggunaannya. Gojek didirikan oleh Nadiem Makarim pada tahun 2010 dan sudah berkembang pesat di lima puluh kota di Indonesia. Gojek menjadi unicorn pertama ketika menerima pendanaan dari investor senilai US$550 juta pada tahun 2016.

Tokopedia berhasil menjadi unicorn kedua di Indonesia setelah menerima pendanaan senilai US$ 1,1 Miliar dari Alibaba pada tahun 2017. Perusahaan e-commerce ini didirikan oleh William Tanuwijaya pada tahun 2009.

Unicorn selanjutnya adalah Traveloka yang didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang pada tahun 2012. Traveloka adalah perusahaan yang menyediakan layanan jasa pemesanan tiket pesawat dan kamar hotel secara daring. Traveloka berhasil meraih gelar unicorn setelah menerima pendanaan senilai US$350 juta pada tahun 2017 dari Expedia.

Bukalapak menempati posisi unicorn keempat di Indonesia pada tahun 2015 setelah menerima pendanaan dari 500 start-up & QueensBridge dengan jumlah yang tidak dipublikasikan. Bukalapak didirikan oleh Achmad Zaky pada tahun 2010.

Data BPS menunjukkan bahwa sejalan dengan menurunnya angka pengangguran terbuka, persentase penganggur muda juga menurun dari sekitar 22% pada tahun 2014 menjadi 20% pada tahun 2018. Persentase penganggur dan setengah penganggur muda menurun dari sekitar 35% ke 29%. Sesuai dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2018 sebesar 5,17 persen.

Jika dipahami lebih lanjut, data BPS menunjukkan persentase penganggur muda memang berkurang, tetapi untuk yang berpendidikan tingkat SMA ke bawah. Sementara itu tingkat pengangguran lulusan Diploma dan Sarjana semakin meningkat. Berdasarkan data yang disampaikan BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan universitas naik sebesar 1,13 persen dibandingkan Februari 2017 dari 5,18% menjadi 6,31%.

Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak merupakan perusahaan yang menjangkau sebagian besar masyarakat dengan perekonomian tingkat menengah ke bawah. Pada dasarnya latar belakang perusahaan seperti Tokopedia dan Bukalapak bertujuan untuk mempermudah akses pedagang-pedagang kecil untuk menjajakan dagangannya. Latar belakang Gojek juga untuk memfasilitasi ojek-ojek pangkalan untuk lebih mudah mendapatkan pelanggan. Perusahaanperusahaan unicorn di Indonesia pada dasarnya tidak memiliki standar pendidikan yang tinggi. Sehingga yang memenuhi lapangan pekerjaan adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah.

Maka dari itu, sudah saatnya Indonesia mengembangkan unicorn-nya untuk membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas untuk generasi muda yang berpendidikan SMA ke atas. Sehingga persentase pengangguran dapat menurun dengan seimbang dan menambah lahan investasi. Pada 2015, investasi start-up di Asia Tenggara berada di angka US$ 1,719 miliar.

Pada 2016 nilainya meningkat menjadi US$ 3,09 miliar. Belum genap 2017 berakhir, nilai investasi di Asia Tenggara di para start-up telah berada di angka US$ 6,4 miliar. Pada tahun 2017 dari angka yang besar itu, uang senilai US$ 2,948 miliar masuk ke start-up di Indonesia. Tercatat, Singapura memperoleh pendanaan senilai US$ 3,037 miliar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki empat dari delapan unicorn di Asia Tenggara merupakan sebuah kebanggaan bagi Indonesia. Indonesia memiliki kekuatan dalam ekonomi digital, karena memiliki pasar yang besar serta skala ekonomi yang besar untuk melahirkan unicorn. Namun, faktanya investasi yang masuk ke Indonesia masih kalah tipis dengan investasi di Singapura yang notabenenya hanya memiliki dua unicorn, Grab dan Sea.

Mengacu pada laporan McKinsey (2018), perdagangan online memiliki dampak di empat area. Pertama, financial benefits. Indonesia adalah pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara. Nilainya saat ini kurang lebih US$ 2,5 milyar dan akan menjadi US$ 20 miliar di tahun 2022. Kedua, job creation. Diperkirakan akan ada 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022 akibat dari ekonomi digital ini yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Selanjutnya, buyer benefits. Ini bisa dilihat dari harga-harga di marketplace e-commerce yang biasanya lebih murah dari offline. Dengan berbelanja online, konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11 sampai 25 persen dibandingkan berbelanja di ritel tradisional. Terakhir, social equality. Ekonomi digital telah berdampak terhadap kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan dan masalah sosial lainnya. Begitupun dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang semakin dinikmati masyarakat. Dengan adanya ekonomi digital, bisnis kecil yang awalnya hanya menjual produknya di kota asalnya saat ini bisa menjual produknya ke luar kota bahkan luar negeri.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa jumlah unicorn yang dimiliki sebuah negara tidak menentukan kemajuan investasi di negara tersebut. Indonesia layak berbangga karena menjadi negara dengan jumlah unicorn terbanyak di Asia Tenggara. Namun, perlu dilakukan pengembangan dan inovasi agar unicorn dapat menyerap tenaga kerja lulusan universitas lebih besar dan menambah jumlah investasi. Sehingga dengan memiliki gelar unicorn terbanyak di Asia Tenggara tidak hanya menjadi sekedar prestise belaka.

Referensi :
Badan Pusat Statistik. (2018). Ekonomi Indonesia Triwulan III-2018 Tumbuh 5,17 Persen. (Diakses dari : https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/11/05/1522/ekonomiindonesia-triwulan-iii-2018-tumbuh-5-17-persen.html)

Badan Pusat Statistik. (2018). Februari 2018: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,13 persen, Rata-rata upah buruh per bulan sebesar 2,65 juta rupiah. (Diakses dari : https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/05/07/1484/februari-2018–tingkat-pengangguranterbuka–tpt–sebesar-5-13-persen–rata-rata-upah-buruh-per-bulan-sebesar-2-65-jutarupiah.html)

Sicca, Shintaloka Paradita. (2018). BPS: Pengangguran Lulusan Universitas Naik 1,13 Persen. (Diakses dari : https://tirto.id/bps-pengangguran-lulusan-universitas-naik-113- persen-cJ3h)

Banjamahor, Donald. (2018). Tanpa Indonesia, 3 Startup Asing ini Tak Bakal Jadi Unicorn. (Diakses dari : https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20180719174314-37- 24423/tanpa-indonesia-3-startup-asing-ini-tak-bakal-jadi-unicorn)

Zaenudin, Ahmad. (2017). Melihat Perjalanan 4 Startup “Unicorn” asal Indonesia. (Diakses dari : https://tirto.id/melihat-perjalanan-4-startup-unicorn-asal-indonesia-cAdQ)

Djumena, Erlangga. (2018). Kenapa Unicorn Muncul di Indonesia?. (Diakses dari : https://ekonomi.kompas.com/read/2018/02/12/104408026/kenapa-unicorn-muncul-diindonesia)

CNN Indonesia. (2019). Melihat 4 Unicorn Indonesia yang Tak ‘Dikenal’ Prabowo. (Diakses dari : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190217222614-185- 370153/melihat-4-unicorn-indonesia-yang-tak-dikenal-prabowo)